Senin, 26 Desember 2016

Dulu main di tepi pantai, kini main di tepi jalan.


Sebagian dari Media TV kian hari memberitakan hal-hal yang tidak begitu penting. Semisal 'Om Telolet Om' yang memang menghibur, namun bagi saya tidak perlu diberitakan secara berlebihan bahkan oleh media TV nasional. Pengaruhnya sangat besar dan begitu cepat merambah bahkan di kampung saya sendiri. Di kampung, menonton TV di waktu malam itu sudah menjadi aktivitas keluarga yang tidak bisa dilewatkan. Maklum, sudah banyak yang berubah. Kalau dulu orang di kampung saat malam mereka mengaji (membaca Al-Quran) atau bercengkrama dengan para sanak saudara, kini kebanyakan dari mereka nonton TV dengan anak-anak mereka.

Dulu Kalau ada sesuatu yang lagi trend biasanya akan menyebar di kota dengan cepat dan barulah menyebar 2 minggu atau 1 Bulan setelahnya di kampung-kampung. 

Masalahnya adalah ada beberapa media TV yang lebih suka mengejar rating penonton ketimbang kualitas penayangan.

Hasilnya, anak-anak di kampung saya biasanya mengisi liburannya dengan berbagai macam permainan lokal atau kadang ke tepi pantai mencari kerang. Dulu mainnya ditepi pantai, sekarang mainnya di tepi jalan. Dengan membawa kertas dan kardus bertuliskan 'om telolet om' diselingi lompatan dan teriakan. Hampir 1 jam saya memperhatikan mereka (haha sambil mengawasi adik saya yang ikutan) saya mengira mereka menunggu bus lewat, ternyata semua kendaraan yang lewat diteriaki. Mereka menunggu kendaraan yang berbunyi 'telolet', tapi selama 1 jam semua kendaraan yang lewat bunyinya biasa-biasa saja.