Jumat, 06 November 2020

4 Hari bersama Sikola Inspirasi Alam

"Inspirasi datang dengan berbagai warna".


Komunitas pendidikan Sikola Inspirasi Alam merupakan sebuah komunitas kesukarelawanan yang bergerak dibidang pendidikan dan bertujuan membantu pendidikan di daerah-daerah pedalaman/terpencil. Sikola Inspirasi Alam atau disingkat SIA dibentuk pada tanggal 2 mei 2016, terbentuknya bersamaan dengan hari pendidikan nasional oleh pendiri Andi Irwansyah dan Muh.Faisal beserta beberapa relawan pengajar lainnya. Visi dari SIA adalah menyelenggarakan proses belajar dan pembelajaran dengan memanfaatkan alam sebagai objek utama pembelajaran dalam rangka melestarikan budaya lokal, dengan Misi melaksanakan kegiatan proses belajar dan pembelajaran didalam maupun diluar kelas yang menyenangkan bagi semua peserta didik. Saat ini untuk dua semester SIA berfokus mengajar di daerah pedalaman Sinjai Tengah, desa kompang, dusun Lappara sebanyak 20 siswa. Setiap Bulan SIA merekrut relawan dan mengirim relawan pengajar baru beserta pendamping ke lokasi. Sebelum pemberangkatan ke lokasi terlebih dahulu diadakan 'meet up' untuk membahas tentang lokasi yang ingin dituju dan apa-apa saja yang akan dilakukan disana. Kemudian esoknya kami berangkat ke lokasi yang terbilang cukup jauh dari kota Makassar maupun dari kota sinjai. Disana kami menitipkan kendaraan di rumah warga di desa Kompang kemudian lanjut dengan berjalan kaki ke dusun Lappara, hal ini dikarenakan akses jalan ke lokasi kurang baik, banyak tanjakan dengan jalanan berlubang, jalanan yang sempit, dan juga saat itu sedang musim penghujan.

Setibanya kami di lokasi, terlebih dahulu kami ke RK (rumah kepala) untuk ijin menetap dan mengajar selama 4 hari seraya silaturahmi. Setelah itu diwaktu pagi beberapa anak laki-laki ke sekolah untuk pukul kentungan dan kemudian teriak "Sikola.. Sikola.. Sikola.." kemudian pukul lagi dan teriak lagi "Sikola.. Sikola.. Sikola.." kadang juga mereka melucu dengan menambah irama dangdut yang kocak sambil joget dan teriak "Sikola.. Sikola..". Lalu, anak-anak yang lain pun mulai berdatangan dan aktifitas sekolah pun dimulai. Kegiatan awal kami yakni upacara bendera dan anak-anak sebagai pelaksananya. Setelah itu kami lanjut perkenalan pengajar baru didalam kelas. Metode pembelajaran yang SIA terapkan adalah metode tutor, jadi anak-anak diminta untuk memilih mau diajar dengan siapa. Biasanya 1 relawan itu mengajar 1 siswa dan kadang juga dapat 2 siswa karena mereka tidak mau berpisah.

SIA memiliki 3 program pembelajaran yaitu formal, kreatif, dan agama. Di kelas formal yang diajarkan sama dengan di sekolah formal pada umumnya hanya saja dalam pembelajaran dipadukan unsur alam sebagai media pendukung serta banyak memberi motivasi dan inspirasi kepada anak-anak sebagai pendobrak semangat belajar. Dan uniknya pembelajaran tidak mesti di dalam kelas, sebelum belajar terlebih dahulu relawan pengajar bertanya pada anak-anak yang menjadi tanggungan maunya belajar dimana. Terkadang belajarnya di bawah pohon, di pinggir sungai, di atas batu besar, di kebun mereka, di rumah mereka, dan sebagainya. Belajar dimanapun mereka mau, inilah tempat belajar mereka yang tak terbatas. Sangat menyenangkan ketika kita tahu bahwa ternyata kelas kita begitu luas bahkan tak dibatasi oleh dinding.

Kegiatan pembelajaran formal dilaksanakan selama 2 hari antara jam 8 sampai jam 12. Untuk kelas kreatif, kami mengajarkan kesenian berpadu alam dan tetap menyelipkan motivasi yang berfokus pada peningkatkan kreativitas, kemampuan psikomotorik, dan perspektif yang baik untuk anak-anak. Pada kelas agama SIA lebih berfokus pada aqidah, penanaman sifat serta sikap yang baik sesuai tuntunan rasul, serta belajar shalat dan Al-Quran. Di malam terakhir atau malam ke tiga kami mengadakan silaturahmi keluarga besar di desa, bercengkerama dengan warga yang ramah yang menghadirkan suasana damai, indah, dan penuh keakraban yang berpancarkan senyum dan tawa bahagia. Di hari terakhir kami mengadakan outbound, sebuah kegiatan belajar sambil bermain dengan anak-anak. Gembira.. Ceria.. ya! tentu! Hal ini juga kadang membuat para relawan sejenak bernostalgia akan masa kecil dulu yang penuh keceriaan sama seperti anak-anak Lappara. Dengan penuh harap akan masa depan pendidikan mereka yang lebih baik, semoga senyum dan wajah ceria mereka tak mudah dibaluti oleh keputusasaan.

Biasanya sebelum para relawan pulang ke Makassar, mereka melakukan pembersihan di tempat-tempat umum yang kurang terawat, dan juga membagikan donasi ke anak-anak atau keluarga yang membutuhkan, serta tak lupa pula berpamitan dengan warga yang begitu ramahnya menyambut kedatangan kami, menerima keberadaan kami, hingga kami berpamitan pulang.

"Salam Inspirasi Alam.."



Foto-foto :