Nestapa Lappara
Ada cerita lain yang muncul dari masyarakat Lappara, kali ini bukan dengan warna cerah namun datang dengan warna gelap. Ada begitu banyak kabar haru disana. "Kasihan" ya! Kata itu yang terus muncul di pikiran saya mengingat bagaimana kerasnya hidup disana. Yang saya perhatikan dan juga kata orang, mereka sangat tidak diperhatikan oleh pemerintah dalam hal pembangunan dan pendidikan.
Cerita yang datang dari beberapa sumber, dari beberapa masyarakat yang saya wawancarai disana. Sekola alam lappara dulunya pernah dapat bantuan sekitar 50juta untuk renovasi dan kebutuhan prasarana namun tak ada satupun yang sampai kesana. Mereka seakan dijadikan tempat bisnis oleh orang-orang tak bertanggung jawab. Bahkan parahnya mereka hanya diberi bangku dan kursi bekas yang lapuk. Dan yang paling mengharukan, semua itu diangkut oleh orang tua siswa dan tentunya bersama anak-anak mereka. Karena tidak diperhatikan, mereka dengan terpaksa membangun desa secara swadaya. Bahan-bahan bangunan mereka angkut ke desa dengan kendaraan pribadi melalui akses jalan yang terjal dan kurang memadai. Tiap relawan yang berangkat kesana, mereka begitu mengeluhkan akses jalan dengan tanjakan dan jurang. Namun bagaimana dengan para penduduk desa? Mereka begitu sabarnya dan terus berharap akan bantuan dari apapun dan siapapun.
Mirna, anak gadis desa Lappara yang berhasil melanjutkan pendidikan ke Universitas juga memiliki pengalaman pendidikan yang begitu memprihatinkan. Perjuangan menuntut ilmu yang sangat keras dan dengan harapan yang besar. Diceritakan oleh ibunya sewaktu kami bantu urus hasil panen cengkih. Selama di SD ia melalui jalan yang lebih parah dari sekarang, dulu ia berangkat jam 4 subuh digendong ibunya, kadang juga jika hujan badannya ditutupi plastik dan ibunya pun rela hujan-hujanan. Kendala besar lainnya untuk ke sekolah yakni perlu menyeberangi sungai dengan menggunakan rakit, yang itupun sangat mengkhawatirkan keselamatan. Akses ke lokasi sebelumnya belum memiliki jembatan di sungai, perjuangan dengan mengabaikan resiko apapun demi pendidikan yang lebih baik.
Cerita lain muncul ketika kami tengah berbincang dengan kepala dusun. Pernah terjadi sengketa tanah, beberapa orang datang membawa dokumen bermodus bantuan donasi yang ternyata sebuah penipuan. Dikarenakan masyarakat belum bisa membaca dengan baik dan diiming-iming bantuan, mereka langsung menandatangani dokumen yang bahkan tak tahu berisi tentang apa. Akhirnya terjadi sengketa selama berbulan-bulan yang sangat meresahkan warga. Inilah harapan utama dari orang tua siswa, mereka berkata "meski pendidikan mereka rendah dan tak punya kesempatan meraih impian, mereka sangat berharap kebaikan hidup dan pendidikan untuk anak-anak mereka. Harapan bahwa pendidikan adalah jawaban atas segala kesulitan dan kebaikan hidup.
Masyarakat di lappara juga pernah di tipu oleh salah seorang yang disebut mantan kepala desa. Ia mengurus tambak ikan untuk tiap-tiap rumah tangga disini dan mereka diharuskan membayar 100ribu per rumah tangga. Mereka di janjikan akan segera dibawakan banyak bibit ikan untuk tambak mereka. Namun, orang tadi tak kunjung datang.. masyarakat menunggu sekian lama dan tidak ada. Diperkirakan ia membawa lari uang berjuta-juta hasil menipu orang-orang tidak mampu.
Masih banyak kejadian yang lebih parah, utamanya dari pemerintahan daerah. Penipuan demi penipuan terus datang.. salah satunya dari pemerintah kehutanan, berisi orang-orang yang tak punya harga diri. Mereka mengklaim tanah masyarakat sebagai lahan milik pemerintah setempat dengan alasan wilayah yang ditumbuhi pohon pinus, padahal sebenarnya pohon-pohon pinus terletak cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Parahnya lagi demi mencapai target perluasan wilayah, pemeritah setempat memalsukan data-data laporan, misalnya lahan yang ditumbuhi pohon pinus sekitar 1000ha namun yang ditulis oleh pemerintah kehutanan menjadi 2000ha sehingga masyarakat yang tidak tahu apa-apa secara tidak langsung terancam banyak hal. Miris..
......Wallahu a'lam......
Dan masih begitu banyak cerita tentang sisi perjuangan hidup masyarakat Lappara yang masih perlu digali lebih dan lebih jauh lagi.. Orang-orang perlu tahu apa yang mereka alami dan betapa meresahkannya pemerintah yang tidak adil dan tidak bekerja sama dengan baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar